LWN8NWJ5LGp5LWRbMGB7MWBbN7csynIkynwbzD1c

Bagaimana Menulis Berita dari Lapangan? Ini Trik Jurnalistik yang Bisa Dipraktikkan

Pelajari trik liputan jurnalistik di lapangan, mulai 5W+1H, merekam wawancara, …

BLANTERLANDINGv101
8350489988225664623

Bagaimana Menulis Berita dari Lapangan? Ini Trik Jurnalistik yang Bisa Dipraktikkan

Selasa, 29 September 2026
Pelajari trik liputan jurnalistik di lapangan, mulai 5W+1H, merekam wawancara, mengolah transkrip hingga menulis berita dengan bantuan AI.

Menulis berita dari sebuah liputan di lapangan sebenarnya tidak harus rumit. Ada sejumlah trik sederhana yang bisa membantu jurnalis, humas, pengelola media komunitas, maupun siapa saja yang mendapat tugas meliput sebuah kegiatan.

Kunci pertama adalah memahami dasar jurnalistik, yaitu 5W+1H. Enam unsur ini menjadi fondasi untuk memastikan informasi yang dikumpulkan selama liputan cukup untuk diolah menjadi sebuah berita.

Mulai dari 5W+1H

Ketika mendapat tugas meliput kegiatan, misalnya upacara di lingkungan pemerintah kota, rapat, seminar, bakti sosial, peresmian, atau kegiatan masyarakat, biasakan langsung mencari dan mencatat enam unsur berikut:

What — Peristiwa apa yang terjadi?

Who — Siapa saja yang terlibat atau hadir dalam peristiwa tersebut?

When — Kapan peristiwa berlangsung? Catat hari dan tanggalnya.

Where — Di mana kegiatan berlangsung?

Why — Mengapa kegiatan atau peristiwa tersebut dilakukan? Apa latar belakangnya?

How — Bagaimana proses atau jalannya peristiwa tersebut?

Jangan menunggu sampai acara selesai untuk mencari informasi tersebut. Sebagian data justru bisa dikumpulkan sejak pertama kali tiba di lokasi.

Sampai di Lokasi, Jangan Langsung Sibuk Memotret

Kebiasaan yang saya lakukan ketika tiba di lokasi liputan adalah membuka fitur catatan (note) di HP.

Informasi pertama yang saya catat biasanya adalah nama kegiatan, tema, hari dan tanggal. Informasi tersebut sering kali sudah tersedia pada banner atau backdrop kegiatan.

Langkah sederhana ini sangat membantu. Setelah kegiatan selesai, kita tidak perlu lagi mengandalkan ingatan untuk memastikan nama acara atau tema yang sebenarnya.

Manfaatkan HP untuk Merekam

Ketika MC mulai membacakan susunan acara, saya biasanya mulai mengaktifkan fitur perekam suara di HP.

Bagian ini penting karena MC sering menyebutkan nama pejabat, tokoh, narasumber, pembicara, atau pihak lain yang hadir dalam kegiatan.

Selain merekam, tetap lakukan pencatatan secara manual. Jangan hanya mengandalkan rekaman.

Nama orang, jabatan, tema kegiatan, dan informasi penting lainnya sebaiknya langsung dicatat. Rekaman nantinya menjadi bahan untuk mengecek kembali informasi yang mungkin terlewat.

Saat Sambutan, Dekati Sumber Suara

Ketika sambutan dimulai, saya kembali mengaktifkan perekam suara dan mencatat nama serta jabatan orang yang memberikan sambutan.

Salah satu persoalan yang sering ditemui ketika merekam kegiatan adalah kualitas suara. Suara pembicara bisa terdengar kurang jelas karena jarak, posisi ruangan, atau kondisi sound system.

Karena itu, jika memungkinkan, dekatkan HP dengan sumber suara.

Saya sendiri sering menggunakan HP Redmi 14C untuk merekam. Ketika kualitas sound system cukup baik, HP bisa dimasukkan ke kantong baju untuk merekam sambil tetap melakukan aktivitas lain, seperti mencatat atau mengambil foto.

Jika tidak membawa kamera, HP yang sama juga dapat digunakan untuk mengambil dokumentasi foto.

Peralatan sederhana bukan alasan untuk tidak menghasilkan liputan yang baik. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakannya secara efektif.

Jangan Biarkan Rekaman Menumpuk

Setelah satu sesi sambutan selesai, segera beri nama atau rename file rekaman sesuai dengan nama pejabat atau tokoh yang berbicara.

Misalnya:

  • Sambutan Ketua Panitia

  • Sambutan Wali Kota

  • Sambutan Ketua DPRD

  • Materi Narasumber 1

  • Materi Narasumber 2

Kebiasaan kecil ini akan sangat membantu ketika kita mulai mengolah bahan liputan.

Bayangkan jika setelah menghadiri sebuah seminar kita memiliki sepuluh file rekaman dengan nama seperti REC001, REC002, REC003 dan seterusnya.

Kita tentu akan membutuhkan waktu lebih lama hanya untuk mencari siapa yang berbicara dalam masing-masing rekaman.

Catat Kalimat yang Bisa Menjadi Lead

Selama mengikuti acara, jangan hanya mencatat siapa yang berbicara dan apa jabatannya.

Perhatikan juga informasi penting yang berpotensi menjadi lead berita.

Misalnya, seorang pejabat mengumumkan kebijakan baru, narasumber menyampaikan data penting, atau terdapat pernyataan yang berkaitan langsung dengan persoalan masyarakat.

Catat bagian tersebut.

Dalam jurnalistik, tidak semua informasi dalam sebuah acara memiliki nilai berita yang sama. Tugas peliput adalah menemukan informasi yang paling penting dan menarik untuk ditempatkan di bagian awal berita.

Bagaimana Jika Seminar Berlangsung Lebih dari Satu Jam?

Seminar atau diskusi sering berlangsung cukup panjang. Jika menggunakan fitur perekam suara di HP, sebaiknya jangan membiarkan satu rekaman berjalan terlalu lama.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menghentikan rekaman secara berkala, misalnya setelah sekitar 45 menit, kemudian memulai rekaman baru.

Dengan cara ini, file rekaman menjadi lebih mudah dikelola dan dicari ketika proses penulisan dimulai.

Tentu, durasi tersebut bukan aturan jurnalistik. Ini lebih merupakan trik teknis untuk memudahkan pengelolaan rekaman.

Ingin Mendapatkan Informasi Lebih Dalam? Lakukan Wawancara

Rekaman jalannya acara terkadang belum cukup untuk menghasilkan berita yang kuat.

Jika membutuhkan informasi yang lebih mendalam, lakukan wawancara dengan narasumber.

Tidak harus selalu wawancara panjang. Beberapa pertanyaan yang tepat justru dapat menghasilkan informasi yang lebih relevan untuk berita.

Pertanyaan dapat diarahkan pada hal-hal yang belum terjawab dalam kegiatan, misalnya alasan sebuah program dilakukan, target yang ingin dicapai, data yang digunakan, atau langkah selanjutnya.

Dari sinilah kemampuan bertanya seorang jurnalis menjadi penting.

Lalu, Bagaimana Mengubah Rekaman Menjadi Tulisan?

Dulu, salah satu cara yang biasa dilakukan adalah mendengarkan rekaman dari awal sampai akhir sambil mengetik atau mencatat isi pembicaraan.

Cara tersebut tentu bisa dilakukan.

Namun, jika rekamannya panjang, prosesnya membutuhkan waktu dan cukup melelahkan.

Sekarang teknologi digital menawarkan cara yang lebih praktis melalui teknologi speech-to-text, yaitu mengubah suara menjadi teks.

Salah satu alat digital yang saya gunakan adalah Google Journaliststudio. Rekaman atau bahan yang tersedia dapat digunakan untuk membantu memperoleh teks dan mengolah informasi sehingga lebih mudah ditelaah kembali.

Meski teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan, hasil transkripsi tetap perlu diperiksa. Nama orang, jabatan, angka, istilah, dan kutipan harus dicocokkan kembali dengan rekaman atau sumber aslinya.

Teknologi membantu pekerjaan jurnalistik. Tanggung jawab terhadap akurasi tetap berada pada penulis.

Setelah Itu, Baru Susun Berita

Setelah bahan liputan terkumpul, tahap berikutnya adalah mengolahnya menjadi berita.

Gunakan kembali prinsip 5W+1H untuk memastikan informasi utama tidak ada yang terlewat.

Kemudian susun berita menggunakan prinsip piramida terbalik. Informasi yang paling penting ditempatkan di bagian awal, kemudian diikuti informasi pendukung.

Tidak semua isi rekaman harus dimasukkan ke dalam berita.

Jurnalis harus memilih informasi yang paling relevan dengan sudut berita yang ditentukan.

Di sinilah proses jurnalistik sebenarnya dimulai: mengumpulkan fakta, memeriksa informasi, memilih angle, menyusun fakta, kemudian menuliskannya secara jelas dan berimbang.

AI Bisa Membantu, tetapi Bukan Pengganti Jurnalis

Teknologi kecerdasan buatan atau AI juga dapat digunakan untuk membantu mengolah bahan liputan.

AI dapat membantu merapikan transkrip, mengelompokkan informasi, menemukan bagian penting, atau membantu membuat struktur awal tulisan.

Namun, hasil AI tidak boleh langsung dianggap sebagai berita final.

Jurnalis tetap harus memeriksa fakta, mencocokkan kutipan dengan sumber, memastikan nama dan jabatan benar, serta menghindari informasi yang tidak pernah disampaikan narasumber.

Dengan demikian, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu kerja, bukan sebagai pengganti proses jurnalistik.

Jurnalistik Digital Bisa Dipelajari

Menulis berita dari lapangan merupakan keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih.

Mulai dari memahami 5W+1H, mencatat informasi, melakukan wawancara, merekam suara, mengambil foto, mengolah transkrip, menentukan angle, hingga menyusun berita menggunakan piramida terbalik.

Semakin sering berlatih, semakin cepat pula kita mengenali informasi mana yang penting dan layak menjadi berita.

Bagi Anda yang ingin belajar lebih jauh mengenai jurnalistik digital, termasuk teknik peliputan dan pengolahan bahan liputan menjadi tulisan, informasi mengenai materi pelatihan dapat dilihat di:

https://www.denblangkon.web.id/p/pelatihan-jurnalistik-digital.html#materi

Pelatihan jurnalistik bukan hanya untuk mereka yang bekerja sebagai wartawan. Keterampilan ini juga bermanfaat bagi humas instansi, sekolah, gereja, organisasi masyarakat, komunitas, pengelola website, media internal, maupun siapa saja yang memiliki tugas mendokumentasikan dan menyampaikan informasi kepada publik.

Karena sebuah kegiatan akan lebih bermakna ketika tidak hanya didokumentasikan, tetapi juga mampu diceritakan kembali melalui berita yang akurat, jelas, dan menarik untuk dibaca.

BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang
☎